Menyambut Panggilan Haji

  • Sumo

Sebentar lagi calon jamaah haji akan meningggalkan tanah air untuk melkasanakan ibadah di tanah suci Makkah dan sekitarnya. Kita bergembira dan bersyukur atas besarnya semangat dan antusiasme masyarakat muslim dalam menunaikan ibadah haji. Kita berdoa dan berharap semoga seluruh jamaah diberi kemudahan dan kelancaran untuk memperoleh haji mabrur, yang berbalas Surga. Tentu saja banyak sekali hikmah, ibrah dan pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan ibadah haji ini.

Pertama, semangat menyambut seruan Allah dan memenuhi panggilan-Nya. Jamaah haji, sejak pertama kali berniat ihram, disunnahkan memperbanyak pengucapan talbiyah, yang berupa ucapan: Labbaikallahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik…, dan seterusnya, yang berarti: aku sambut seruan-Mu ya Allah, aku sambut seruan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada ilah (tuhan yang berhak diibadahi dengan benar) selain Engkau, aku penuhi panggilan-Mu…

Maka esensi dari bacaan talbiyah di dalam haji adalah semangat dan kesiapan menyambut seruan Allah, yang juga biasa dibahasakan dengan kata sami’na wa atha’na, yang bermakna: kami dengar dan kami siap taat. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ”Sesungguhnya jawaban/sikap orang-orang mukmin, bila diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menegakkan hukum di antara mereka, ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh (taat) dan mereka itulah orang-orang yang beruntung/berbahagia” (QS. An-Nuur: 51).

Betapa indah dan luar biasa seandainya semangat seluruh kaum muslimin dalam menyambut setiap seruan dan perintah Allah adalah seperti dalam menyambut seruan untuk berhaji! Maka mari menyambut setiap seruan dan perintah Allah dengan ruh labbaikallahumma labbaik dan semangat sami’na wa atha’na!

Kedua, semangat ibadah untuk ibadah, atau baca: totalitas ibadah). Jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah asasi yang lainnya, maka akan didapati bahwa, haji dengan seluruh rangkaian manasiknya adalah merupakan praktik ibadah ritual yang paling jauh dari penalaran logika dan akal. Namun toh setiap jamaah tetap saja bersemangat dalam menjalankannya. Ini hikmah dan pelajaran yang sangat penting yang mengingatkan kita semua bahwa, yang harus menjadi dasar dan motivasi utama dalam menjalankan setiap ibadah, khususnya yang bersifat ritual, adalah iman dan bukan rasio atau logika.

Ketiga, semangat atau jiwa pengorbanan. Ibadah haji juga merupakan ibadah yang menuntut beragam pengorbanan yang tidak kecil, seperti pengorbanan harta, tenaga, waktu, mental dan masih banyak lagi yang lainnya, bahkan terkadang harus siap berkorban nyawa segala. Dimana tanpa adanya kesiapan berkorban dengan semua pengorbanan itu, seseorang tidak akan bisa sampai ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan ilahi. Mungkin karena itu, Rasululah shallalahu ‘alaihi wasallam menyebut haji sebagai jihad tanpa pertempuran, khususnya bagi kaum perempuan, bahkan Beliau shallalahu ‘alaihi wasallam sampai menyebutnya sebagai bentuk jihad yang paling utama (lihat HR. Ahmad dan Ibnu Majah, juga HR. Al-Bukhari, keduanya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha). Dan ibrah penting yang harus kita ambil disini adalah bahwa, setiap penunaian perintah dan syariat Allah menuntut pengorbanan. (amj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.