Iman Mengalahkan Nafsu

Saudaraku, Semua tuntutan syari’at Islam memerlukan power dalam merealisasi dan optimalisasi. Power yang dimaksud adalah derajat ketinggian iman kita pada ajaran Islam. Praktik syariat kita sangat bergantung pada seberapa tangguhnya iman di hati. Jika derajat keimanan kita rendah, maka sulit untuk mengamalkan atau mempraktekkan tuntutan syari’at. Sebaliknya, jika iman sedang kuat, maka kita semakin berdaya dalam mengalahkan hawa nafsu. Lanjutkan membaca

Durhaka Kepada Orangtua

Durhaka kepada kedua orangtua termasuk dosa besar. Kedua orangtua memiliki jasa yang luar biasa kepada anaknya, mulai anak dalam kandungan sampai anak itu dewasa. Allâh Azza wa Jalla memberitakan sebagian jasa tersebut dalam firman-Nya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (QS. al-Ahqâf:15) Lanjutkan membaca

Cinta Dunia

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Akan datang masa di mana kamu diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkuk.” Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulallah?” Rasulullah bersabda, “Tidak, bahkan saat itu jumlahmu sangat banyak, tetapi seperti buih di lautan karena kamu tertimpa penyakit ‘wahn’.” Sahabat bertanya, “Apakah penyakit “wahn” itu ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Penyakit “wahn” itu adalah terlalu cinta dunia dan takut mati.” Lanjutkan membaca

Tabarruj

Kata tabarruj disebutkan dalam al-Quran di surat al-Ahzab ayat ke-33 :”Hendaklah kalian (para wanita) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dan seperti tabarruj orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” Al-Qurthubi menjelaskan makna at-tabarruj secara bahasa, beliau mengatakan,Tabarruj artinya menyingkap dan menampakkan diri sehingga terlihat pandangan mata. Contohnya kata: ’buruj musyayyadah’ (benteng tinggi yang kokoh), atau kata: ’buruj sama’ (bintang langit), artinya tidak penghalang apapun di bawahnya yang menutupinya. (Tafsir al-Qurthubi, 12/309). Lanjutkan membaca

Bahaya Riya

Riya berasal dari kata ru’yah (penglihatan) sebagaimana sum’ah berasal dari kata sam’ (pendengaran) dari sekedar makna bahasa ini bisa difahami bahwa riya adalah ingin diperhatikan atau dilihat orang lain. Dan para ulama mendefiniskan riya adalah menginginkan kedudukan dan posisi di hati manusia dengan memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka. Lanjutkan membaca

Waspadai Perasaan Dengki

Perasaan dengki adalah perasaan tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain. Bukanlah definisi yang tepat untuk sifat dengki ini adalah mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain. Bahkan semata-mata perasaan tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain itu sudah terhitung dengki baik diiringi harapan agar nikmat tersebut hilang ataupun sekedar merasa tidak suka. Lanjutkan membaca

Tanda Harta Tidak Berkah

Saudaraku, Berkah Allah adalah berkah yang sebenarnya dibalik setiap nikmat. Tanpa berkah, nikmat sebanyak apapun, sesungguhnya hanyalah bencana. Jika semua orang mengejar kekayaan, maka sadarilah bahwa kekayaan yang berguna hanyalah yang diberkahi Allah.  Inilah beberapa tanda harta yang tidak diberkahi oleh Allah swt: Hartanya tidak membahagiakan. Hartanya tidak terpakai untuk beribadah dan beramal sholeh. Harta yang hanya terpakai untuk bersenang senang, kesia siaan dan sulit bahkan tak bisa dikeluarkan untuk zakat, infaq, waqaf, dan sedekah. Lanjutkan membaca

Kesenangan dan Kesusahan

Dalam hidup ini kita selalu berada di antara “kemudahan”/”kesenangan” dan “kesusahan”..Tapi kedua-duanya merupakan kenikmatan..Karena di dalam kemudahan/kesenangan ada syukur.. “Dan Allah akan memberi balasan (yang tentu tak terhingga) kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imran: 144). Dan di dalam kesusahan ada sabar..”Hanya orang-orang yang bersabar sajalah yang disempurnakan pahalanya secara tanpa batas” (QS. Az Zumar: 10). Lanjutkan membaca

Dakwah

Secara bahasa seperti yang telah sama-sama kita tahu, kata dakwah berasal dari bahasa Arab: yang berarti: memanggil, menyeru, mengundang, mengajak dan lain-lain yang semakna. Jika mengacu pada arti bahasa ini, maka bisa disimpulkan bahwa, segala cara, pola, gaya, bahasa, bentuk, model, sikap, perilaku, tindakan dan lain-lain di bidang dakwah, yang tidak sesuai dan tidak selaras dengan cakupan makna etimologis tersebut, berarti telah keluar dari ruang lingkup dakwah itu sendiri. Lanjutkan membaca

Jangan Berdoa Yang Buruk

Dari Jabir bin Abdillah ra, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Janganlah kalian berdoa buruk untuk diri kalian. Janganlah kalian berdoa buruk untuk anak-anak kalian. Dan janganlah kalian berdoa buruk untuk harta kalian. Jangan sampai (saat berdoa buruk itu) kalian justru menepati suatu saat (mustajab) dimana begitu Allah diminta padanya dengan satu permintaan, Dia langsung mengabulkannya untuk kalian” (HR. Muslim) Lanjutkan membaca