“Bu, aku hari ini setengah saja ya?” pinta seorang anak dengan merengek-rengek kepada ibunya. “Ya, nggak apa-apalah. Tapi mulai besok harus penuh lho ya. Atau paling tidak tiga perempatlah,” jawab ibunya di tengah-tengah kesibukannya memasak untuk buka puasa sore harinya. Ibunya memaksa dia harus berpuasa, karena bulan ini adalah bulan Ramadhan. Tapi dasar anak-anak. Dia belum bisa memahami dengan sempurna bahwa puasa adalah sebuah ibadah yang amat penting, amat istimewa, dan penuh dengan berbagai keutamaan. Tahunya, semua orang muslim di bulan ini harus puasa. Itu saja. Dan ibunya menyuruhnya ikut puasa sehingga meskipun berat harus puasa juga.
Hanya saja, begitu waktu zhuhur tiba, perut si anak tadi benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya, dia melakukan ‘penawaran’ kepada ibunya, bagaimana kalau hari itu puasanya setengah saja. Artinya, setengah hari saja, tidak sampai satu hari penuh. Anak-anak yang lainnya barangkali ada juga yang puasa seperempat, maksudnya jam sembilan pagi sudah boleh berbuka. Yang lain lagi mungkin bisa puasa seperempat, maksudnya boleh buka begitu waktu asar tiba. Adapun anak yang sudah terbiasa, mungkin bisa puasa penuh, dari shubuh sampai maghrib, sebagaimana orang-orang dewasa.
Menurut hukum fikih, anak-anak memang belum wajib puasa. Seseorang baru wajib berpuasa jika ia sudah baligh. Namun tidak berarti para orangtua yang mewajibkan anaknya berpuasa bermaksud melanggar hukum fikih itu. Sebaliknya, justru mereka menginginkan agar begitu anaknya baligh, ia tidak melanggar hukum fikih karena tidak berpuasa. Para orangtua itu memaksa anaknya berpuasa dalam rangka pembiasaan, karena jika tidak dibiasakan maka sampai besar pun si anak tidak akan pernah kuat berpuasa.
Sebetulnya, tidak hanya dalam urusan puasa saja para orangtua dianjurkan untuk melakukan pembiasaan pada anak-anaknya. Berbagai bentuk ibadah, utamanya yang wajib, harus dibiasakan pada anak-anak sejak dini. Rasulullah pernah bersabda,”Ajarilah anak-anakmu shalat ketika ia berumur tujuh tahun. Dan pukullah ia (dengan pukulan yang tidak melukai dan membahayakan) pada umur sepuluh tahun jika ia meninggalkan shalat.” Demikianlah Rasulullah memberi tuntunan agar kita benar-benar serius dalam mendidik anak-anak kita.
Sebegitu pentingnya pendidikan terhadap anak-anak, sampai-sampai Rasulullah memberikan warning yang cukup keras: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” Ini adalah sebuah peringatan keras, bahwa akan menjadi apa anak-anak kita nantinya sangat tergantung pada pendidikannya di masa kecil. Apa saja yang orangtua ajarkan dan contohkan kepada anak-anaknya, kemana orangtua menyekolahkan anak-anaknya, dan dalam lingkungan seperti apa anak-anak tumbuh dan besar, akan sangat menentukan masa depan anak-anak kita.
Jika setiap hari seorang anak mendengar bapaknya suka berkata-kata kotor, percayalah bahwa anak tersebut pasti akan mencontoh perilaku bapaknya itu. Sebaliknya, jika seorang bapak dilihat oleh anaknya rajin shalat dan beribadah, insyaallah anak tersebut juga akan mencontoh perilaku saleh bapaknya itu. Pendek kata, jika kita ingin anak-anak kita menjadi baik maka kita harus memberikan keteladanan yang baik pula.
Yang juga tidak kalah pentingnya adalah lingkungan yang baik bagi anak-anak kita. Bagaimana perilakunya di sekolah, seperti apa teman-teman bermainnya, bacaan seperti apa yang ia baca, dan tontonan apa yang ia lihat, akan berperan besar dalam membentuk kepribadian seorang anak. Wallahu a’lam bishshawab.