Saudaraku, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, diciptakan sebagai manusia yang paling sempurna keimanannya, kecerdasannya dan fisiknya. Kesempurnaan tersebut menjadi semakin sempurna dengan sifatnya yang tak menampakkan dirinya sebagai figur yang paling benar dan paling suci. Beliau selalu beristighfar setiap hari, 70 kali hingga 100 kali, dan tak segan merendahkan hati dengan meminta pendapat orang lain untuk urusan sangat penting seperti saat perang Uhud dan Khandaq.
Beliau akan minta maaf jika dianggap salah, bahkan menjelang wafatnya beliau memperkenankan dirinya diqishas oleh Ukasyah bin Mihshan, sedang di saat yang sama beliau tak marah jika ada yang sengaja mengganggu. Meski telah dijamin surga, beliau tetap melakukan shalat malam hingga bengkak kakinya. Bagaimana dengan kita? Masih layakkah menganggap diri kita paling benar dan suci?
Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda :
لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ
“Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalian” (HR. Muslim)
Ketika ibadah malam dan dzikir panjang sudah biasa kita lakukan, perut terbiasa lapar karena puasa, lembar Qur’an telah lusuh karena sering kita baca, maka mulailah setan menghias hati kita dengan sifat merasa paling suci sehingga mudah tersulut sombong dengan memandang kecil yang lainnya. Ingatlah bahwa iblis diusir dari surga bukan karena kurang ibadah, iblis terusir karena merasa dirinya lebih baik…
Ketika sangat banyak kitab yang telah dikhatamkan, banyak penghargaan keilmuan yang didapat, banyak waktu yang dipakai untuk melakukan perjalanan dan diskusi untuk mempertajam wawasan, tapi jika semua itu membuat kita merasa paling bijak dan punya kewenangan memutuskan benar salah, maka bisa jadi karena rasa ujub yang menyertai, lalu Allah permalukan kita dengan kebodohan kebodohan yang merendahkan.
Maka, mulailah melunakkan hati dan nafsu. Letakkan ilmu pada ruang sunyi penghambaan, bukan sekedar sebagai modal koleksi argumen untuk menjatuhkan orang lain dan mendapat tepuk tangan dalam panggung sengketa. Ingatlah bahwa luka sejarah pernah terjadi justru pada periode paling dekat dengan Rasulullah SAW, dimana sahabat sekaligus menantunya Usman bin Affan RA, dan Ali bin Abi Thalib RA, dibunuh oleh mereka yang merasa dirinya paling benar dan suci. Tumpukan ilmu dan koleksi ibadahnya cuma menjadikan mereka sebagai manusia yang tega membuat cucu cucu Rasul SAW, sebagai yatim. Maka bisikkan pada jiwa bahwa, kita berilmu untuk beribadah dan merendah, bukan untuk meninggi agar terlihat manusia sempurna.
Ya Rahman, Kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak Engkau dengar. (@msdrehem)