Sunan Drajat

  • Sumo

Sunan Drajat adalah salah satu dari walisongo penyebar agama Islam di Jawa, khususnya di daerah pantai utara Lamongan Jawa Timur. Dinamakan Sunan Drajat karena beliau penyebar Islam dan pemimpin sebuah daerah yang bernama Drajat. Sebuah tempat yang berada di sebuah perbukitan sebelah timur kecamatan Paciran Lamongan. Beliau lahir sekitar tahun 1445 masehi. Ayah beliau adalah Raden Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel Surabaya, sedang ibunya bernama Dewi Condrowati atau Nyai Ageng Manila cucu bupati Surabaya atau putri bupati Tuban. Beliau adalah saudara dari Raden Maqdum Ibrahim atau Sunan Bonang itu memiliki nama Raden Qasim.Sejak kecil Raden Qasim sudah memiliki kelebihan-kelebihan seperti kecerdasan dan jiwa social yang tinggi. Sejak kecil beliau dididik dan belajar agama Islam langsung kepada ayahnya sendiri yaitu Sunan Ampel. Beliau pernah juga belajar kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon Jawa Barat. Selama di Cirebon, disamping belajar, beliau juga membantu sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam disana. Beliau menikah dengan putri sunan Gunung Jati yang bernama Dewi Sufiyah.

Setelah belajar agama Islamnya dirasa cukup, beliau diminta untuk menyebarkan agama Islam di daerah pesisir utara di sebelah barat Surabaya. Beliau melakukan perjalanan menuju ke daerah yang dituju melalui jalan laut dengan menggunakan perahu. Dikisahkan, dalam perjalanan laut tiba-tiba perahu yang ditumpangi dihantam ombak yang cukup besar sehingga pecah perahunya. Beliau bertahan ditengah lautan dengan berpegangan dayung perahu yang tersisa. Dengan izin Allah tiba-tiba sekelompok ikan talang mendorong beliau sampai ke pinggir pantai. Akhirnya beliau samapi di pantai di sebuah desa yang bernama Jelak, Banjarwati Paciran Lamongan.

Mendarat di desa Jelak, Raden Qasim disambut tokoh masyarakat setempat yang bernama mbah Mayang Madu dan mbah Banjar. Beliau berdua sudah memeluk agama Islam. Raden Qasim kemudian tinggal di desa Jelaq dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk disana. Banyak juga penduduk dari tempat lain yang datang untuk belajar agama Islam kepada Raden Qasim. Sehingga menjadi ramailah desa Jelaq. Beliau menikah dengan putri mbah Mayang Madu yang bernama Nyai Kemuning atau Nyai Kinanti. Semakin hari semakin ramai desa Jelaq. Desa terpencil itu kemudian berubah nama menjadi desa Banjar Anyar.

Setelah beberapa lama tinggal di desa Jelaq, Raden Qasim kemudian ingin melebarkan dakwahnya kearah selatan. Beliau ingin memindahkan aktifitas dakwahnya di tempat yang baru. Dipilihlah tempat yang agak tinggi yang berupa perbukitan yang masih berupa hutan lebat di daerah selatan yang bernama Drajat. Maka diajaklah santri-santrinya untuk membabat hutan dan membuka lahan untuk dirubah sebagai tempat untuk pemukiman dan lahan pertanian. Setelah selasai pembukaan lahan, maka berpindahlah Raden Qasim beserta keluarga dan santri-santrinya ke tempat yang baru. Maka sejak itu Raden Qasim bersama keluarga dan santri-santrinya berdiam di Dalem Duwur Drajat. Sehingga beliau kemudian disebut dengan Kanjeng Susuhunan Drajat atau Sunan Drajat.

Dalam mengajarkan dan penyebaran Islam, beliau sangat memperhatikan keadaan masyarakat. Sehingga banyak masyarakat yang dengan sukarela masuk agama Islam. Jiwa sosial beliau tercermin dari Catur Piwulang (empat pokok pengajaran) beliau kepada para santri dan para pengikutnya. Catur Piwulang itu meliputi Catur piwulang yang meliputi menehono teken marang wong kang wuto (berikan tongkat pada orang buta), menehono mangan marang wong kang luwe (berikan makan pada orang lapar), menehono busana marang wong kang wuda (berikan pakaian pada orang telanjang), dan menehono pangiyup marang wong kang kaudanan (berikan tempat berteduh pada orang kehujanan). Beliau Wafat tahun 1520 masehi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.