Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang benar” (QS. At Taubah: 199)” Sidik (Benar) adalah kesesuaian antara ucapan dengan hati nurani dan prilaku secara terpadu. Kesesuain ketiga komponen tersebut melahirkan sidik yang sempurna, apabila kurang salah satunya yang ada hanya ucapan dan niat di hatinya sidiknya masih relatif, apabila niat dan ucapannya benar lalu perilakunya bertolak belakang berarti pada orang tersebut aaa sifat sidik dan kazab (dusta).
Orang yang komitment dengan sifat sidik akan naik derajatnya disisi Allah, dicintai manusia, diampuni dosa dan kesalahannya dan kelak dimasukan kedalam syurga bersama-sama dengan para Nabi. Sesungguhnya sidik akan menentukan kepada perbuatan bir (kebajikan selalu) dan kebajikan akan menuntun ke syurga. Orang yang bersikap sidik akan dicatat sebagai sidik (sangat benar). Dusta akan menuntun kepada penyimpangan, penyimpangan menjerumuskan ke neraka. Orang yang selalu berdusta kelak tertulis sebagai tukang dusta.(Hadist)
Allah subhanahu wata’ala berfirman:“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul mereka kelak akan ditempatkan bersama-sama dengan orang-orang yang Allah berikan rahmat yaitu para nabi, orang-orang yang (sidik), syuhada, orang-orang shaleh. Mereka itulah teman yang paling baik (QS. An Nisa: 69-70).
Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyebutkan jenis sidik yang perlu direalisasikan dalam diri seorang mu’min agar menjadi mu’min yang sebenarnya.
Sidqul Lisan (Benar dalam ucapan)
Ucapan manusia adalah ekspresi yang ada dihatinya. Hati yang baik melahirkan ucapan yang baik. Sebaliknya hati yang buruk mengeluarkan ucapan yang buruk. Perbaikan ucapan harus dimulai dari perbaikan hati. Apabila hati baik, ucapan yang keluar menjadi baik dan selanjutnya akan mengikuti oleh prilaku yang baik. Dan prilaku yang baik akan dibalas dengan ampunan dosa yang dapat membersihkan diri manusia. Allah subhanahu wata’ala berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu (QS. Al Ahzab: 70-71 )
Sidqul Niyah dan Irodah (Benar dalam keyakinan dan motivasi)
Nilai perbuatan seseorang tergantung motivasi dan niatnya. Manakala perbuatan yang baik dilandasi denga niat yang baik, mangharap ridho Allah maka nilai perbuatan itu menjadi baik, sebaliknya manakala motivasi dan niatnya buruk sekaligus tampak lahiriahnya kelihatan baik, seperti apa-apa yang kadang-kadang dilakuakan oleh orang munafik.Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda : “sesungguhnya amal perbuatan manusia tergantung niatnya. Dan amal setiap orang mendapatkan balasan perbuatan yang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)
Sidqul Wafa (Benar dalam Kesetiaan)
Untuk melakukan perbuatan yang baik dan benar tidak cukup dengan adanya keinginan dan motivasi, tetapi harus ditopang dengan tekad yang kuat untuk merealisasikan perbuatan tersebut banyak rintangan, tantangan dan kedalanya. Suksesnya Abu Bakar dalam memerangi orang-orang yang murtad, tidak mau membayar zakat, karena tekadnya yang luar biasa untuk memerangi orang-orang murtad sekalipun sendirian tanpa dukungan sahabat-sahabatnya yang lain. Tekad inilah yang kemudian mendapatkan dukungan dan simpati Umar dan seluruh sahabat yang lain.
Sidqul Wafa (Benar dalam kesetiaan)
Wafa (setia) adalah sifat ulul albab, orang-orang suci, orang-orang mu’min dan mutaqin yang dipuji didalam Al Qur’an. Ulul albab adalah “orang-orang yang setia memenuhi janjinya kepada Allah dan tidak merusak janji” (QS. Ar Ra’d: 20), orang-orang Abror (suci) adalah yang setia menunaikan nazarnya dan takut akan sesuatu hari (kiamat) yang azabnya tersebar dimana-mana (QS. Al Insan: 7).
Sidqul Amal (Benar dalam Perbuatan)
Risalah manusia adalah untuk beramal, berbuat yang shaleh dan positif. “Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mu’min akan melihat amal perbuatannya.(QS. At Taubah: 105). Amal perbuatan yang benar yang akan menjadi bekal yang membahagiakan manusia kelak di akhirat.” Barang siapa yang lebih berat timabangan amal baiknya maka dia akan mendapatkan kehidupan yang menyenangkan” (QS. Al Qariah:7)