Hari Ibu, Mulianya Wanita

  • Sumo

Di masa Jahiliyah, wanita tidak dianggap sebagai anggota masyarakat, bahkan kalau suaminya meninggal maka anaknya berhak menjual atau menikahinya. Ikatan pernikahan dengan pola al- istibdho’, al-rath atau al-rayah yang menempatkan wanita sebagai obyek pelampiasan gharizah kebinatangan. Kelahiran anak perempuan dicap sebagai pembawa sial dan pemutus kemuliaan nasab sehingga langsung dicekik atau dikubur hidup-hidup.

Islam hadir menempatkan wanita sebagai sosok pejuang mulia sebagaimana laki-laki. Dalam sejarah terukir indah nama : Hajar, Asiyah, Masyithah, Aminah, Khadijah, Aisyah, Fatimah yang memberikan bukti peran besar wanita dalam peradaban manusia. Bahkan setiap pahlawan dan orang besar selalu bersanding dan dibimbing oleh tangan lembut dan hati yang kokoh dari istri maupun ibundanya.

Bergulirnya waktu menggerakkan kereta peradaban dengan segenap beban kehidupan, hingga muncul distorsi makna keberadaan wanita. Munculnya isu persamaan dan pengarusutamaan gender, feminisme, gerakan partisipasi, kebebasan HAM, dan seabreg  racun yang membuat toxic pada hati wanita. Menyeret peran wanita bertabrakan dengan kodrat penciptaannya, tidak ingin menikah karena mengganggu karir, tidak ingin memiliki anak karena merepotkan, bahkan tidak ingin hidup bersama orang tuanya karena merasa tidak merdeka.

Rasulullah SAW sudah mengantisipasi perkembangan dan problema jaman dengan nasihatnya,“Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian memaksa diri untuk meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita.” (HR Bukhari)

Sosok ibulah yang satu ayunan tangannya mampu merangkai peradaban, dan satunya menyiapkan pewaris peradaban (anak-anak). Islam dengan segala kemuliaannya telah berhasil meletakkan dengan ideal posisi kaum wanita dalam gegap gempita kehidupan. Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, seorang lelaki mendatangi Rasulullah SAW, “Aku berjanji setia kepadamu, wahai Rasulullah untuk berhijrah. Tetapi aku meninggalkan orang tuaku dalam keadaan terus menangis.” Rasulullah  menjawab, “Pulanglah kepada keduanya. Buatlah keduanya tertawa, sebagaimana kau telah membuatnya menangis.” (HR. Muslim).

Suatu hari Abdullah bin Umar r.a melihat seorang menggendong ibunya untuk thawaf di Ka’bah dan kemana saja sang ibu menginginkan. Lalu orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?”, Jawab Abdullah bin Umar,“Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.”

Seorang laki-laki datang kepada Umar ra lalu berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai ibu yang sudah tua renta. Dia tidak menunaikan keperluannya kecuali punggungku yang menjadi tanggungannya. Apakah aku sudah membuatnya ridha dan bisa berpaling darinya? Apakah aku sudah menunaikan kewajiban kepadanya?” Umar r.a. menjawab, “Belum”. “Bukankah aku telah membawanya dengan punggungku dan aku merelakan hal itu untuknya.” tukas lelaki itu. “Tapi, dia telah melakukannya dan dia berharap agar engkau hidup dan tetap berada di pangkuannya. Sebaliknya, engkau melakukannya dan berharap untuk segera mati dan berpisah dengannya,” tegas Umar r.a, sehingga membuat orang itu tak lagi sanggup berbicara lagi.

Di dunia ini, tak akan pernah kita temukan cinta kasih seindah cinta kasih seorang ibu. Imam Adz Dzahabi menguraikan, “Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan yang serasa sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dengan air susunya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dia bersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan, dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan kesedihan yang panjang. Dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu, dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka ia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlaq yang tidak baik. Dia selalu mendoakanmu agar mendapat petunjuk, baik di dalam sunyi maupun ditempat terbuka. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan ia haus. Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu daripada ibumu. Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat. Begitu berat rasanya bagimu memeliharanya, padahal itu urusan yang mudah…”

Layaknya sebuah organisasi, keluarga pun mutlak memiliki job description. Dan hal yang harus kita pahami adalah tidak ada yang menjamin seorang yang memiliki wilayah kerja di sektor publik akan memiliki kemuliaan dan kualitas lebih baik dari seorang ibu yang memiliki wilayah tanggungjawab pada sektor privat. Karena semua kemuliaan mutlak hanya akan dipetik dari ketaqwaan dan ketaatan pada Allah “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS An-Nisa’:32)

Dialog Rasulullah SAW dengan istrinya, Ummu Salamah yang didokumentasikan oleh Imam Ath-Thabrani sebagai pecut penyemangat, pengobar ruh keshalihan.

Ummu Salamah,“Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jelita.” (QS. Ad-Dukhan: 54)

Rasulullah SAW, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”

Ummu Salamah, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, “Laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS Al-Waqi’ah: 23).

Rasulullah SAW, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”

Ummu Salamah, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (QS Ar-Rahman: 70).

Rasulullah SAW, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”

Ummu Salamah, “Jelaskan kepadaku firman Allah, “Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik.” (QS Ash-Shaffat: 49).

Rasulullah SAW, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”

Ummu Salamah, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, “Penuh cinta lagi sebaya umurnya” (QS Al-Waqi’ah: 37)

Rasulullah SAW, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

Ummu Salamah, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli”

Rasulullah SAW, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Ummu Salamah,, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Rasulullah SAW,, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

Ummu Salamah, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”

Rasulullah SAW, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaqnya paling bagus, lalu dia berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaqnya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya”. Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.” (H. Suratno, Ketua IKADI Kab. Madiun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses