Saudaraku, ”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati“. Waktu hidup manusia di dunia telah terjatah dan semuanya (yang kaya berkuasa dan yang papa tak disapa), lelah dengan perjalanan hidupnya masing masing. Dengan berjalannya hari-hari, berlalunya bulan demi bulan, dan bergantinya tahun, maka semua itu hanyalah mendekatkan manusia pada ajalnya. Jika usianya tak tumbang karena musibah musibah hidup, maka manusia akan menemui musibah tua renta, yang menghancurkan ketangkasan fisik, kecermatan berfikir dan kesempurnaan mental.
Beruntunglah manusia yang kelelahan hidupnya karena Allah. Karena pada akhirnya manusia hanya kembali pada Penciptanya. Manusia memiliki beragam angan-angan sesuai dengan keinginannya, namun banyak yang tidak menyadari bahwa ternyata kematian lebih dekat dari angan angannya. Ali bin Abi Thalib RA, berkata :
ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً…
“Dunia telah berjalan menjauh, sedangkan akhirat telah berjalan mendekat…”
Sebagai hamba Allah, manusia tidak hanya diberi kebebasan, tetapi juga diberi batasan dan tanggung jawab. Firman Allah subhanahu wata’ala: “Dan Kami berfirman: “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” (QS. Al Baqarah : 35)
Batasan itu bukan sekadar ujian moral, melainkan sebagai tanda bahwa kehidupan tidak otonom. Manusia (bukanlah Allah), tak boleh menentukan sendiri standar baik-jahat dan menguasai hidup tanpa bergantung pada Sang Pencipta. Fir’aun sombong, merasa “menjadi seperti Allah” karena sangat berkuasa dan hidup di dunia dengan standarnya sendiri, lalu celaka. Bahkan manusia pada awal penciptaannya adalah makhluk surga yang abadi, lalu karena lalai dan memilih standarnya sendiri (bukan taat pada ketentuanNYA), maka diturunkan ke dunia dan tak lagi abadi ( QS. Al Baqarah : 36).
Memilih untuk taat pada Allah adalah keputusan bijak yang membawa banyak manfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Memilih jalan ketaatan, adalah investasi untuk kedamaian jiwa dan menghindari penyesalan mendalam yang muncul akibat menjauhi fitrah dan perintah Sang Pencipta. Ya Rahman, Mudahkan kami untuk taat. Jadikan taat adalah pola yang sangat spontan dalam hidup kami. Jangan jadikan kami manusia sombong yang merasa cerdas dan bijak dengan berma’siyat. Jadikan keberadaan kami berakhir dengan Husnul Khatimah. (@msdrehem)