Memilih Taat

Saudaraku, ”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati“. Waktu hidup manusia di dunia telah terjatah dan semuanya (yang kaya berkuasa dan yang papa tak disapa), lelah dengan perjalanan hidupnya masing masing. Dengan berjalannya hari-hari, berlalunya bulan demi bulan, dan bergantinya tahun, maka semua itu hanyalah mendekatkan manusia pada ajalnya. Jika usianya tak tumbang karena musibah musibah hidup, maka manusia akan menemui musibah tua renta,  yang menghancurkan ketangkasan fisik, kecermatan berfikir dan kesempurnaan mental. Lanjutkan membaca

Menjaga Keluarga

Di era banjir informasi seperti sekarang, media sosial bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menghadirkan kemudahan, kecepatan, dan peluang kebaikan yang tak terbatas. Di sisi lain, ia menjadi medium penyebaran fitnah, hoaks, dan konten negatif yang dapat merusak individu, keluarga, dan bahkan tatanan sosial. Sebagai muslim, kita tidak boleh terjebak dalam arus tanpa kendali. Sudah menjadi kewajiban kita untuk membentengi diri dan keluarga dari segala bentuk fitnah, termasuk fitnah media sosial. Ini adalah perintah Allah yang tegas dan menjadi barometer keimanan seorang muslim. Lanjutkan membaca

Catatan Sekjen IKADI ke Aceh Tamiang

Rombongan IKADI ketika menuju Kabupaten Aceh Tamiang, dari Jakarta harus lewat Kuala Lumpur, lalu menuju Air Port Kualanamu Medan, menghabiskan waktu setengah hari baru sampai di Kualanamu. Dari Kualanamu rombongan langsung menuju Tamiang dengan mobil, sepanjang jalan kondisi jalan yang baru tersambung pasca banjir bandang, terlihat sepanjang jalan kebun sawit bekas terendam banjir menunjukan volume air saat kejadian mencapai 5-6 meter dari permukaan. Lanjutkan membaca

Menjaga Komitmen Pernikahan

Saudaraku, Komitmen adalah fondasi utama dalam sebuah hubungan yang sehat dan langgeng. Dalam konteks hubungan pernikahan, maka komitmen berarti kesanggupan untuk tetap setia, bertanggung jawab, dan berusaha mempertahankan hubungan meskipun menghadapi banyak tantangan. Komitmen pernikahan tidak hanya tentang janji, tetapi juga tentang tindakan nyata yang menunjukkan keseriusan dalam menjaga hubungan. Lanjutkan membaca

Ibadah yang Diterima

Ibadah mencakup seluruh kehidupan. Dengan tegas Allah subhanahu wata’ala memastikan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepadaNya, Sebagaimana firman Allah subhanahu wta’ala: Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu (QS. Adz-Dzariat:56). Keberadaan manusia di bumi ini untuk ibadah, maka kehidupan ini bagi manusia adalah ibadah. Oleh karenanya semestinya manusia harus menjadikan seluruh hidupnya dalam rangka beribadah kepada Allah. Lanjutkan membaca

Hari Ibu, Mulianya Wanita

Di masa Jahiliyah, wanita tidak dianggap sebagai anggota masyarakat, bahkan kalau suaminya meninggal maka anaknya berhak menjual atau menikahinya. Ikatan pernikahan dengan pola al- istibdho’, al-rath atau al-rayah yang menempatkan wanita sebagai obyek pelampiasan gharizah kebinatangan. Kelahiran anak perempuan dicap sebagai pembawa sial dan pemutus kemuliaan nasab sehingga langsung dicekik atau dikubur hidup-hidup. Lanjutkan membaca

Memperbanyak Teman

Saudaraku, Dalam hidup, kita membutuhkan banyak kawan yang baik. Kawan yang baik akan membantu kita dalam suka dan duka. Ia laksana cermin jernih bagi kepribadian kita, karena kawan yang baik akan mengingatkan kekurangan kita dan menguatkan kelebihan kita. Semakin banyak kawan baik kita, semakin besar dukungan dan kebahagiaan, semakin besar peluang kesuksesan, dan semakin tinggi kemuliaan kita. Lanjutkan membaca

Problematika Keluarga

Adalah sesuatu yang bersifat aksioma, jika keluarga muslim dimaksudkan: Keluarga yang dibangun di atas pondasi yang kokoh, dimana pertemuan kedua insan (suami isteri) dalam rangka merealisasikan tujuan agama yang suci. Namun dalam realitanya sesuatu yang ideal itu ternyata tidak selamanya terwujud dalam kehidupan keluarga. Ketidak sinkronan antara bentuk idealita dengan realita, itulah yang disebut dengan Problematika, Lanjutkan membaca

Jujur Pondasi Sucinya Jiwa

Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang benar” (QS. At Taubah: 199)” Sidik (Benar) adalah kesesuaian antara ucapan dengan hati nurani dan prilaku secara terpadu. Kesesuain ketiga komponen tersebut melahirkan sidik yang sempurna, apabila kurang salah satunya yang ada hanya ucapan dan niat di hatinya sidiknya masih relatif, apabila niat dan ucapannya benar lalu perilakunya bertolak belakang berarti pada orang tersebut aaa sifat sidik dan kazab (dusta). Lanjutkan membaca