Pilar-Pilar Ibadah

  • Sumo

Ibadah dalam Islam  bertujuan untuk merealisir hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya,  disamping untuk  memperkokoh kepribadiannya dan meningkatkan hubungan horizontal sesama manusia atau alam lingkungannya.  Dengan disyariatkannya ibadah ini, seorang muslim diharapkan menjadi manusia  yang mulia akhlaknya dan lurus prilakunya sebagai cerminan  ketakwaannya.

Ibadah merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan lewat pengontrolan diri dan rasa tunduk kepada-Nya sehingga dia tetap ingat akan kedudukan dirinya sebagai hamba yang akan kembali kepada-Nya. dan membutuhkan pertolongan-Nya. Firman Allah yang artinya: Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan . (QS. Al Fatihah 5)

 

Ibadah dalam Al Quran

Ibadah adalah ungkapan bahasa Arab yang dilansir oleh Al Quran al Karim. Dari segi etimologis  biasa diartikan  dengan tha’at  dan ketundukan . Dalam  kamus Lisanul Arab  disebutkan, ibadah adalah Ketaatan disertai dengan rasa tunduk. Muhammad abduh dalam menafsirkan  ayat 5 dari Surat al Fatihah  menyatakan bahwa ibadah  adalah ketaatan  disertai dengan puncak .

Sedangkan definisi ibadah dari sisi istilah adalah “suatu ungkapan yang mencakup semua hal yang disukai Allah swt baik berupa perkataan mauopun perbuatan, yang kelihatan ataupun yang tersebunyi.” Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan : Ibadah adalah  suatu konsep yang  menghimpun  kesempurnaan cinta, tunduk dan takut kepada  Allah.

Dengan demikian, kata ibadah mengandung  dua makna  (ketaatan dan rasa tunduk) yang kemudian mengkristal menjadi satu makna, yaitu puncak kepatuhan yang disertai dengan kecintaan  yang menyeluruh. kecintaan  tanpa kepatuhan atau kepatuhan tanpa kecintaan tidak mencerminkan makna ibadah secara hakiki.

Dr. Yusuf Al Qardlowi menyatakan bahwa pandangan Ibnu Taimiyyah tentang Ibadah lebih luas lagi . Ia menguraikan makna ibadah mencakup unsur-unsur yang sederhana. dengan syarat perbuatan atau ucapan tersbut dilakukan dengan penuh rasa cinta dan rasa tunduk. Selanjutnya Al Qardlowi suatu ibadah yang hakiki harus memiliki minimal dua syarat.  Yaitu : Pertama  Beriltizam  dengan syariat  Allah, baik yang menyangkut  perintah ataupun laranganm halal ataupun haram.

Kedua , Keiltizaman  di atas harus keluar dari hati sanubari yang mencintai Allah.      Dalam Al Quran , kata-kata ibadah  dengan berbagai derivasinya dijumpai sebanyak 272 kali  Sedangkan ayat-ayat yang mengisyaratkan  pengaruh ibadah dalam kehidupan manusia  minimal tersebar dalam 18 tempat  sbb:

Al  Baqarah ayat : 21, 45, 63, 179, 185, 197.

Al An’am ;157

At Taubah 103

Thoha 14

Ar Ra’d 28

 Maryam  59

Al mu’minun 2-9,  23, 32.

Al Haj 24.

Al Ma’arij  19-35

Al ankabut 45.

Al A’raf  204

Kalau kita  meneliti isi dari ayat-ayat yang  tersebut di atas kita akan bisa menyimpulkan  beberapa hal sebagai berikut.:

  • Ada sekelompok ayat yang menyebutkan pengaruh ibadah secara umum seperti sholat, zakat, puasa, haji, dzikir dan bentuk ibadah lainnya.
  • Ada ayat-ayat yang menyebutkan pengaruh ibadah secara khusus seperti pengaruh sholat, pengaruh puasa, pengaruh haji , pengaruh membaca Al Quran dst.

Cakupan Makna Ibadah

Ketika menyebutkan kata ibadah biasanya fikiran kita tertuju kepada Ibadah Shalat, Zakat,Haji dan Puasa. Dan pengertian ibadah seperti ini ada dalam fikiran mereka ketika melihat macam-macam ibadah lalu mereka membatasinya dalam rukun-rukun ini saja. Dan pembatasan yang demikian itu dalah merupakan pengaruh dalam bab-bab Fiqhi Islam yang datang kemudian setelah turunnya Al-Qur’an, yaitu ketika para Fuqaha membagi Fiqhi kepada Fiqhi Ibadah dan Fiqhi Mu’amalah.

Para penelitai ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasul melihat bahwasanya ma’na Ibadah itu merupakan ma’na yang luas dan mencakup seluruh bentuk kegiatan manusia yang bisa mengarahkan dalam kegiatannya menuju kepada Allah Tuhan seru sekalian Alam. Ketika seorang Muslim merenungi firman Allah; “Katakanlah, sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar, agama Ibrhim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Katakanalah, sesungguhnya Sholatku, Ibdahku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan semesta Alam. Tiada sekutu bagiNya, dan yang demikain itulah yang diperhatiakn kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah (Q.S.Al-An’am:161-162). Pasti ia akan memahami bahwa seluruh kehidupan bisa menjadi aktifitas ibadah setiap muslim.

Hidayah kepada jalan yang lurus atau kepada agama yang benar, bisa merupakan perubahan kehidupan seorang Muslim dengan berbagi bentuk aktifitas untuk mencari ridho Allah Tuhan sekalian Alam. Ibadah Shalat dan berbagai aktifitas kehidupan serta bermacam sisi-sisinya; yaitu kehidupan Psychis, kehidupan dan metode berprilaku dari Said bin Fudalah berkata: Rasulullah SAW bersabda; Apabila Allah mengumpulkan seluruh manusia pada hari kiamat, yaitu hari yang tidak diragukan lagi, ada orang memanggil; Barang siapa mengerjakan pekerjaan yang menyekutukan Allah, maka hendaklah ia minta pahala dari selain Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari pada kesyirikan itu.(Ibnu Majah). Maka setiap perbuatan yang mencari keridhoan Allah,  termasuk Ibadah dan setiap bentuk perbuatan yang disertai dengan niat yang tidak ikhlas kepada Allah, maka tidak termasuk Ibadah serta tidak mendapat pahala. Maka Shalat, Zakat, sama seperti berperang dan berdagang yang mencari ridlo Ilahi.

Kita mendengar firman Allah swt dalam surah At-Taubah; “Tidaklah sepatutnya bagi penduduk madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam disekitar mereka, tidak turut menyetai Rasulullah pergi berperang dan tidak patut pula bagi mereka lebih mencintai dari mereka dari pada mencintai dari Rasul. Yang demikian itu adalah karena mereka tidak ditimpah kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka, dengan demikian itu suatu amal shaleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak pula yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka amal shaleh pula, karena Allah akan memberi balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. At-Taubah : 120 – 121).

Dari Jabir Bin Abdullah berkata : Rasulullah saw bersabda; “Ketika kami sedang dalam Perang Tabuk, di Madinah terdapat beberapa orang yang tidak ikut, dan mereka tidak pergi payah-payah melewati lembah kecuali mereka menahan sakit namun mereka ikut mendapat pahala. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Bahkan ketika sekelompok orang datang mengadu kepada Rasulullah saw tentang tetangganya dan mereka berkata; “Sesungguhnya Si fulan berpuasa dan bangun shalat malam, akan tetapi ia mengganggu dan menyakiti tetangganya, lalu Rasulullah saw bersabda ; “Dia di Neraka”.

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa ibadah mencakup  setiap bentuk kegiatan baik yang berkaitan berupa berinteraksi langnsung dengan Allah, seperti shalat dan Puasa ataupun semua bentuk pergaulan terhadap sesama manusia dan juga mencakup seemua prilaku/Akhlaq dan pengabdian masyarakat.

Dalam Islam tidaklah dipisahkan antara hubungannya dengan Allah dalam shalatnya, dihadapan kekuasaanNya dan antara ketaatan kepadaNya ketika bergaul dengan orang lain. Maka seorang Muslim hendaknya menyamakan semua perintah-perintah Allah, menyamakan antara firman Allah; “Dirikanlah Shalat” “Tunaikanlah Zakat” sebagaimana menyamakan antara kerjakanlah yang ma’ruf dengan Cegahlah yang mungkar. Dan firman Allah swt “Dan orang –orang memelihara Amanah yang dipikulnya dan menepati janjinya”. Maka orang-orang yang taat mendirikan Shalat, menunaikan Zakat, melaksanakan Haji, memelihata Amanah, menepati janji mereka serta memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar adalah orang yang melaksanakan berbagai bentuk ketaatan. Demikian juga menyamakan pandangan Muslim terhadap orang yang beribadah dan terhadap semua bentuk perintah-perintah Agama yang berbeda-beda. Meninggalkan shalat merupakan suatu kema’siatan dan menyakiti orang juga termasuk kema’siatan dan mnganiaya orang yang dizalimi juga suatu kema’siatan, memperlakukan Isteri dan pembantu dengan cara yang tidak baik, adalah suatu kema’siatan . semuanya itu merupakan perbuatan ma’siat yang harus dihindari oleh setiap orang Muslim yang taat.

Islam Adalah Agama Yang Mengatur Segala Bentuk Kehidupan.

Orang Islam tidak munafik dan tidak boleh riya’. Suatu saat ia shalat dengan riya’atau igin memperlihatkan kepada orang lain, bukanlah ia termasuk orang Muslim yang baik dan boleh jadi suatu saat ia mendekati para pemimpin dengan munafik dan dua muka, juga tidak termasuk seagai seorang Muslim yang baik. Oleh karena itu kita harus mengetahui bahwa di antara sifat orang-orang munafik adalah, bila mereka shalat akan tetapi mereka riya’.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bin Ibnu Umar r.a.bahwa orang-orang berkata kepadanya; sesungguhnya kami melarang para penguasa. Lalu kami mengatakan kepada mereka perkataan yang berbeda katika kami keluar dari mereka, lalu Ibnu Umar berkata; perbuatan separti itu dianggap di jaman Rasulullah saw sebagai nifaq.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang mengikat kehidupan orang muslim dengan Tuhannya dan memberikan cara dalam pemikiran dan berprilaku, maka seorang hamba tidaklah beribadah kepada Allah selama tidak menempuh jalan itu. Adapun Shalat; yaitu seorang hamba berhubungan langsung dengan Tuhannya, tidak diterima dan tidak benar selama tidak meninggalkan pengaruh dalam prilakunya. Allah Swt berfirman; “Sesungguhnya Shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan kemungkaran”. Barang siapa yang Shalatnya tidak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, niscaya ia telah meninggalkan ruh Shalat itu sendiri dan sunyi dari sifat-sifat yang suci yang meningkatkan hubungannya dengan Allah Rabbal Alamin, 

Sesungguhnya Ibadah adalah setiap prilaku orang Muslim menghadap tuhannya yang dimulai dengan niat dan diakhiri dengan perbuatan. Adapun niat; adalah niat menghadap Allah dan mengerjakkan apa yang diperintahkannya dan harus mengikuti tata cara Rasulullah dalam beribadah.

Istilah  Ibadah  Dan  Mu’amalah..

Istilah Ibadah adalah sesuatu yang berhubungan antara Tuhan dengan hamba dan dalam hubungan itu terdapat juga istilah mu’amalah yang terjadi antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Pembagian dikotomis ini tidak didapati didalam kitab-kitab fikih yang terdahulu. Dalam kitab-kitab ini akan didapati kitab shalat, kitab perdagangan, kitab jihad, kitab Nikah dan lain-lain.

Kitab-kitab atau pasal-pasal atau judul-judul ini sebagian tidak terdapat dalam kelompok ibadah dan sebahagianya yang lain tidak terdapat dalam bagian Mu’amalah.  Padahal semuanya termasuk dalam ketaatan kepada Allah dan beribadah kepadaNya. Maka arti ibadah itu telah terlintas dalam pola fikir seorang muslim ketika ia berusaha berbuat adil kepada istri dan anaknya dan ketika ia menimbang dengan benar dalam perdangangannya. Dan dikatakan bahwa  ia sedang beribadah ketika memutuskan yang benar dan adil takala ia menjadi seorang Hakim atau pengusa didalam memimpin dan memberikan hukuman kepada rakyatnya. Belu sempurna kegiatan seseorang manakala ia hanya didalam mesjid untuk melaksamakan shalat dalam mencari ridha Allah dan melaksanakan perintahNya. Maka ia harus bergaul dengan anaknya secara baik dan memelihara mereka agar jangan sampai terperosok kepada neraka. sebagimana firman Allah swt; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim:6)

Adalah ibadah ketika seorang suami bergaul dengan istrinya dengan ma’ruf, sebagimana sabda Rasulullah saw; “sebaik-baik kamu adalah orang yang berbuat baik kepada istri-istrinya. Dan ketika seorang muslim berdagang, Rasulullah saw mengingatkan; “pedagang yang terpercaya dan jujur, ia akan bersama syuhada pada hari kiamat. (HR, Ibnu Majah). Dan ketika seseorang melaksanakan amanah, Allah mengingatkan; “sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan Amanah kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya  kepadamu. Sesunggunya Allah Maha mendengar lagi maha melihat. Dan ketika seseorang duduk dalam masjid, Rasulullah saw mengingatkan; “sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang mengerjakan pekerjaan yang merupakan hak-haknya

Ibadah Dan Kehidupan.

Sesungguhnya orang muslim yang menyembah kepada Allah dalam seluruh hidupnya hendaknya ia menetapkan ketaatan kepada Allah sejak permulaan siang. Ya Allah; Engkau telah menberikan kami pagi dan siang, dan kepadaMu kami hidup dan mati dan kepada-Mulah kami kembali. Dan jika engkau hendak tidur, maka janagnlah kamu lupa meminta ampun dan mengingat hari akhir (mati) sambil berdo’a.

Dengan namaMu Ya Allah aku meletakan lambungku dan padaMulah aku bangun. Jika engkau memanggil jiwaku, maka ampunilah dan rahmatilah, dan jika engkau mengirimnya, maka peliharalah agar aku termasuk hambaMu yang shaleh”. Jika seorang keluar dari rumahnya hendaklah memohon kepada Allah dengan penuh ketaatan dan menjauhi perbuatan yang dibenciNya. Lalu ia berdo’a; “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kesesatan, kehinaan, kebodohan atau orang yang membodohiku. Dan jika seseorang berdiri menghadap Tuhannya dalam Shalatnya, hendaklah mengulang-ulangi firman Allah pada setiap rakaat Shalatnya, yaitu kalimat; “Engkaulah yang kami sembah dan kepadaMulah kami minta pertolongan”.

Demikianlah seorang mu’min mengulang-ulangi dalam setiap  kegiatan hidupnya berbagai bentuk ibadah kepada Tuhan dalam mengingat Penciptanya sebagi bukti mengingat kepada pencipta dan dilaksanakan pada setiap waktu dan tempat, baik di masjid, di rumah, di tempat berdagang, di kantor, semuanya sama.

Dengan ini, pemahaman yang menyeluruh terhadap ibadah yang merupakan hak-hak manusia terhadap Tuhannya, termasuk dalam cakupan ayat yang artinya; “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepadaku. “Demikian juga jika terdapat pada orang lain, niscaya kehidupannya terangkat kepada kehidupan yang mulia dan demikian juga ibadah yang ikhlas kepada Allah tercermin didunia dan pada manusia secara keseluruhan yang sesuai dengan kemampuannya (semaksimal mungkin) berupa kehidupan baik ditengah-tengah masyarakat ahli ibadah.

Pengaruh Ibadah  secara Umum.

Dari   ayat-ayat  di atas kita bisa melihat  bahwa pengaruh ibadah secara umum adalah :

  1. Merealisir ketakwaan dalam diri ‘abid ( ahli ibadah) sebagaimana yang di sebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 21.Artinya Wahai sekalian manusia, Beribadahlah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu  agar kamu sekalian bertakwa. (QS. Al Baqarah 21). Kaitan dengan ini, seorang yang taat beribadah seharusnya akan melaksanakan semua perintah Allah  dan menjauhi semua larangannya.
  1. Ibadah secara umum akan menciptakan seorang mukmin yang berbahagia di dunia dan akhirat. Allah menyatakan hal ini dalam surat al Mukminun yang artinya: “Sesungguhnya  berbahagialah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang  yang menjauhkan diri dari  perbuatan dan perkataan yang tiada berguna, dan orang-orang yang  menunaikan  zakat, dan orang-orang yang menjaga kelaminnya , kecuali terhadap isteri-isteri  mereka  atau budak  yang mereka miliki ; maka  sesungguhnya mereka dalam  hal ini tiada tercela. Barangsiapa  mencari yang di balik itu  meka mereka itulah  orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang  yang memelihara amanat-amanat  yang dipikulnye dan jandjinya. dan orang yang memelihara shalatnya, mereka itulah yang akan menjadi pewaris yakni akan mewarisi  syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Mukminun  1-11)
  2. Semua ibadah kalau dilaksanakan dengan baik akan menimbulkan ketenangan jiwa, melepaskan keresahan dan kegelisahan jiwa. Dalam surat al Ma’arij Allah menyatakan yang artinya : Sesungguhnya  manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah lalgi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan  ia berkeluh kesah, dan apabila ia  mendapat kebaikan  ia amat kikir kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat…. ( QS. Al Maarij 19-22). Dalam surat Ar Ra’d Allah menyatakan yang artinya: Ketahuilah bahwa dengan berdzikir/ mengingat Allah, hati akan menjadi tenang. (QS. Ar Ra’d 28)

     Itulah di antara Pengaruh semua ibadah dalam kehidupan manusia secara umum. (Prof. Ahmad Satori Ismail)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses