Lebar (huruf e-nya dilafalkan seperti e pada kata enyah) dalam bahasa Jawa bermakna habis. Panganane wis lebar artinya makanannya sudah habis. Dari sini, saya berkeyakinan orang-orang menyebut Idul Fitri sebagai Lebaran karena Idul Fitri adalah saat dimana puasa kita sudah habis alias lebar. Jika lebaran dimaknai seperti ini rasanya cocok-cocok saja. Namun jika makna ini kemudian dikembangkan lebih jauh lagi, bisa memunculkan sedikit masalah.
Jika yang habis saat lebaran adalah bilangan puasa kita, memang demikianlah adanya. Namun jika yang habis saat lebaran adalah habisnya ketaatan yang kita jalani selama Ramadhan, inilah yang jadi masalah. Apabila ada sebagian orang yang benar-benar menjadikan lebaran sebagai akhir dari ketaatannya. Maksudnya: akhir dari segala keseriusan ibadah dan ketaatan yang dijalani selama berada di bulan Ramadhan. Jadi, makna lebaran memang harus kita bersihkan dari penafsiran-penafsiran yang kurang tepat.
Ada baiknya kita perhatikan pula tradisi kupatan yang ada di tengah-tengah masyarakat Jawa. Yang menarik bagi saya adalah apa yang saya dengar bahwa konon kupatan itu berasal dari sebuah kata dalam bahasa Arab: kafah atau kafiyah yang artinya kurang lebih yang menggenapkan atau yang menyempurnakan. Kalau saya tidak salah, kupatan itu jatuh setelah lewatnya enam hari dihitung selepas lebaran. Itu berarti sama dengan bilangan puasa enam hari di bulan Syawal. Artinya, kupatan itu sangat bisa jadi menandai selesainya penunaian puasa sunnah enam hari itu, jika puasa tersebut dilaksanakan setiap hari berturut-turut.
Sehingga, betul-betul genap dan sempurnalah puasa Ramadhan-nya karena sudah ditambah dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Jika memang demikian makna kupatan, saya berkesimpulan nenek moyang kita dahulu (yang menciptakan kupatan itu) betul-betul cerdas, bijak dan kreatif . (abdr)