Jangan Permalukan Diri

Saudaraku, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak suka.” Ditanyakan, “Bagaimana jika apa yang aku katakan itu benar?” Beliau menjawab, “Jika benar apa yang engkau katakan, berarti engkau telah mengghibahinya. Dan jika tidak benar, berarti engkau telah memfitnahnya.” Lanjutkan membaca

Pembela Kaum Tertindas

Saudaraku, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam, diperintahkan Allah untuk membebaskan masyarakat Arab saat itu dari krisis moral dan sosial. Pada awal kenabiannya, beliau ditolak secara kasar oleh kaumnya dengan cara: Mengancamnya, Menyiksa pengikutnya, Merusak karakternya dengan menyebar berita hoax terkait beliau dan agamanya, Memboikot keluarga dan pengikutnya dari hubungan kerja dan pergaulan Lanjutkan membaca

Ciptaan Allah yang Terindah

Saudaraku, Nabi Muhammad saw, menjalankan peran kenabiannya dengan sangat sempurna, karena beliau tidak hanya menjadi pemimpin spiritual bagi umatnya, tetapi sekaligus  menjadi: Kepala negara, Panglima perang, Hakim dan lainnya Beberapa karakteristik kepemimpinan beliau yang menonjol adalah sebagaimana yang dijabarkan dalam Al-Qur’an surat At Taubah ayat 128. Lanjutkan membaca

Kebutuhan Mendasar Manusia

Saudara sekalian, Khalifah Umar bin Khattab RA. pernah berkata:  “Sejak kapan kalian memperbudak manusia? padahal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka..” Hari ketika didalamnya kita tidak melakukan kedhaliman, penindasan, dan peduli pada derita orang lain, maka itulah hari kemerdekaan. Artinya, ketika itulah kita benar benar merdeka menjadi manusia. Sebaliknya, hari ketika kita merampas, menindas, merebut dan abai pada derita orang lain, maka itulah hari kita sedang menjadi hewan yang tak bisa merdeka sebagai manusia. Lanjutkan membaca

Merdeka

Saudaraku, di atas konteks kebangsaan, maka merdeka adalah sebuah kondisi yang di dalamnya sama sekali tak ada belenggu penjajahan pada: hati, pemikiran, dan raga kita. Jangan mengira bahwa diri sedang merdeka dan secara emosional sedang ingin menjadi pahlawan yang bisa memerdekakan nasib buruk orang lain manakala diri sendiri sedang terjajah secara hati, secara pemikiran atau secara fisik. Allah menetapkan manusia sebagai “Abdun” atau hamba, dengan ciri pengabdian hanya padaNYA, justru untuk menyelamatkan atau memerdekakan manusia dari 3 jenis pemenjaraan di atas. Lanjutkan membaca

Jangan Lupa Bahagia

Saudaraku, Bahagia itu di hati. Bahagia bukan di mata, bukan di telinga, bukan di harta, bukan di rumah, bukan di kendaraan, dan bukan diposisi atau jabatan. Bahagia juga bukan di istri, bukan di suami, bukan di anak, bukan di hotel, dan bukan di tempat rekreasi, di dalam atau di luar negeri. Bahagia itu di hati. Hati itu dikuasai oleh Khaliqnya yang memberikan rasa pada hati. Lanjutkan membaca

Hidup Adalah Amal Shalih

Saudaraku, Jika Allah mencintai seorang hamba, maka dijadikan dalam pandangan hamba tersebut, tiada aktivitas yang paling menyenangkan kecuali beramal shalih. Maka, undanglah cinta Allah SWT, dengan rajin menciptakan peluang serta rajin beramal shalih. Jangan menjadi menyesal karena telah menyiakan hidup dengan tak peduli pada penciptaan peluang dan ruang untuk menjadi orang shalih dengan beramal shalih. Waktu yang lewat tak akan pernah kembali, karena kita tak mengenal reingkarnasi, yang membuka peluang berulang untuk melakukan amal shalih. Lanjutkan membaca

Muslimah Pilihlah Suamimu

Keberhasilan berkeluarga bergantung pada kejelian untuk memilih pasangan terbaik untuk kehidupan jangka panjang dengan memprioritaskan keimanan kepada Allah (seagama), kebaikan hati dan ketakwaannya. Ada 7 kriteria memilih suami atau imam hidupnya yang bisa dijadikan panduan: (1) Taat Beragama. Tanpa agama manusia akan tersesat dan menyesatkan diri, keluarga dan masyarakat. Taat beragama, tidak hanya mencakup soal ibadah dan akidah yang benar saja, karena Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, namun juga mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain, bahkan dengan seluruh ciptaan Allah. Lanjutkan membaca

Pahala Abadi Jariyah

Saudaraku, Sebagai hamba Allah, selayaknya kita hidup hanya  untuk beribadah saja, karena memang untuk itulah kita diciptakan (QS. Az Zariyat : 56) Ibadah itu ada yang bersifat pribadi, ada pula yang bersifat sosial. Ibadah ada yang tertentu waktu dan tempatnya, juga ada yang tidak tertentu waktu dan tempatnya. Usia manusia sebelum Nabi Muhammad SAW, sangatlah panjang, hingga ada yang mencapai ratusan tahun. Artinya, mereka berkesempatan untuk lebih lama beribadah dan menuai pahala lebih banyak dari ibadah dan pahala yang bisa dikumpulkan umat Nabi Muhammad SAW. Lanjutkan membaca

Memilih Qowwam yang Tepat

Saudaraku, Rasulullah shalalklahu alaihi wassalam bersabda: “Apabila tiga orang dalam perjalanan, hendaknya mereka mengangkat salah seorang sebagai pemimpin.” (HR.Abu Dawud dari Abi Said al-Khudhri). Jika dalam safar saja memilih pemimpin mesti dilakukan, apalagi untuk yang terkait dengan hajat orang banyak dan waktunya panjang. Maka, sosok pemimpin sangat dibutuhkan untuk menetapkan arah dan membangun visi. Lanjutkan membaca