Dalam sebuah Sabdanya Nabi shalallahu alaihi wasallam berpesan agat umatnya berusaha untuk menahan marah. Dalam kehidupan sehari-hari seorang kadang dihadapkan kenyataan-kenyataan yang bisa membuat seorang marah.Tapi apabila seseorang mampu menahan marahnya, maka itulah sikap yang baik. Jika seseorang mampu menahan kemarahannya, dan tetap bersikap baik dan tenang serta sabar, maka akan bisa mengatasi berbagai permasalahan. Banyak masalah yang menjadi rumit dan menjadi tidak terselesaikan karena dihadapii dengan kemarahan.
Di antara cara untuk mengendalikan dan mengubah sifat mudah marah adalah sebagai berikut:
Dengan Melatih kesabaran: Sadari dampak buruk dari kemarahan dan pahami kebaikan dari sikap ramah. Kemarahan hanya akan memperkeruh keadaan, bukan menyelesaikan masalah. Banyak persoalan justru semakin besar karena disikapi dengan emosi.
Berwudhu ketika marah. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Daud)
Dengan Mengubah posisi tubuh. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ
“Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika marahnya hilang, (itu sudah cukup). Jika belum, maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud)
Membaca ta’awudz ketika marah. Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata,
كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ“
“Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari)
Menyadari hakikat kekuatan sejati. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari)
Dengan berusaha menerapkan hal-hal di atas secara konsisten, insyaAllah sifat mudah marah akan berkurang.